Hakikat Dibalik Proses Pembuatan Keris Oleh Empu Zaman Dahulu

Mokhamad Nur Rokim  

Hakikat Dibalik Proses Pembuatan Keris Oleh Empu Zaman Dahulu
Hakikat Dibalik Proses Pembuatan Keris Oleh Empu Zaman Dahulu
Emha Ainun Nadjib (kiri, putih), Mpu Totok Brojodiningrat (tengah, hitam), Tjuk Eko Hari Basuki (kanan, hitam)

Judul : Hakikat Dibalik Proses Pembuatan Keris Oleh Empu Zaman Dahulu
Oleh : Empu Totok Brojodiningrat

Anggapan Keris di Masa Sekarang

Sejarahnya, enam abad yang lalu keris begitu diagungkan, mempunyai makna yang luwis dan unik. Dimana ketika mengucapkan sumpah menyatukan nusantara, sang Patih Gajah Mada memegang sebuah mahakarya Empu Palandongan yaitu keris dengan dapur, jangkung, dan pamol segoromuncar. Tetapi pada saat ini sungguh sangat menggelikan dan memalukan, kalau kita melihat tayangan ditelevisi, keris identik dengan kembang, kemudian atribut hitam - hitam dan memakai blangkon, dan kemudian sudah siap dengan boneka dengan coblosan, baik itu jarum dan alat - alat sebagainya yang mengerikan.

Sekarang orang banyak mengira kalau keris itu identik dengan khodam, jin, atau makhluk halus, dsb. Padahal keris tidak ada sangkut pautnya dengan jin, khodam, dan makhluk halus yang seperti diinformasikan di televisi. Keris merupakan mahakarya yang luar biasa, seperti apa yang disampaikan oleh Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) bahwa itu bukan alat tusuk, alat tikam, atau bukan alat untuk eksekusi, tapi mempunyai makna pesan - pesan yang dititipkan oleh Empu zaman dulu kepada para pemegangnya dan para manusia.

Pesan di Balik Pembuatan Keris Oleh Empu Zaman Dahulu

Ketika Empu mebabar (istilah membuat keris), dengan segala macam tirakat (olah batin), Empu mengambil bahan baku, yaitu dari pasir besi. Empu mengambil pasir besi yang sudah disediakan oleh alam, kalau mengambil disungai, diambillah yang diatas yang warnanya hitam oleh Empu, Empu zaman dulu tidak pernah mengambil bahan dengan merusak alam sekitarnya, itu merupakan satu pesan dari Empu zaman dahulu. Empu zaman dahulu mempunyai konsep "Memayu Hayuning Buwana" atau mempunyai arti "Menjaga kelestarian, kecantikan, dan keindahan dunia". Itu baru mengambil bahan baku, sudah menitipkan pesan, tidak ada yang namanya merusak alam, hanya mengambil apa yang sudah disediakan alam.

Kemudian setelah bahan baku terkumpul kemudian dibakar didalam pesalen / tungku, terus diwasuh / dicuci untuk dibedakan campuran besi dengan lainnya, kalau diwasuh disini bukan dengan air, tapi dengan api. Sambil mewasuh sang empu juga melafadkan mantra (bacaan doa) dengan tulus agar pewasuhan dengan api ini dapat memberi manfaat bagi pemegangnya, hingga ribuan kali mantra tersebut diucapkan oleh Empu, dia menyatu energinya dengan bahan baku. Besi ini diambil dari empat unsur yaitu wesi kurosani, wesi mangangkang, wesi mangambal, wesi balitung. Mewakili dari empat unsur kejadian manusia, yaitu api, bumi, air, angin, kalau warna menjadi merah (amarah), hitam (aluamah), kuning (supiah), putih (mutmainah).

Dalam peleburan unsur besi, ia ditempa beribu - ribu kali, pada tempaan awal percikan apinya besar, tapi lama kelamaan akan sedikit bahkan tidak keluar percikannya, bahkan bersih. Besi inilah yang dinamakan Tapisaning Tebagan, ini merupakan pesan sindiran seorang Empu kepada manusia, besi model ini kalau dibakar tidak mudah terbakar tapi kalau sudah terbakar ia tidak mudah padam. Hendak manusia seperti model besi ini, tidak mudah di provokasi kalau tidak suatu hal yang memang ia harus marah, ia tidak marah.

Dalam sistem keris tidak mengenal ujung, itu seperti pada gambaran umat manusia yang perjalan hidupnya berjalan terus tiada henti. Selain unsur besi (yang dibawah) juga dimasukkannya kedalam keris yaitu batu meteor (yang diatas), ini juga mengandung maksud yang diatas dengan yang dibawah. "Batu meteor memiliki 13 unsur, ini merupakan benda yang sangat ditakuti oleh jin, bagaimana benda yang sangat ditakuti oleh jin, kok malah jin bersemayam disitu ?" Kata Empu.

Dengan sistem tempaan keris terus dilipat dan ditempa pada proses pembuatannya, walaupun keris tebalnya hanya setengah centi, tapi itu dilipat - dilipat, kalau dihitung jumlahnya 4096 lipatan, masing - masing lipatan itu menyimpan energi tersendiri. Kenapa keris tidak lurus, ketika dikatakan keris lurus tapi nyatanya dia ada condong lelehnya murid, yang benar adalah keris leres ("benar" dalam bahasa jawa). Leres melambangkan bahwa perjalanan manusia harus leres. Lok (kelok / lekukan) keris selalu ganjil, itu menandai bahwa Allah menyukai yang ganjil.

Jadi sangat - sangat disayangkan bahwa sementara ini ada anggapan bahwa keris itu identik dengan kodam, padahal keris ini merupakan ilmu mitologi yang luar biasa. Bahan keris itu ada Titanium, Uranium, bahan hulu ledak roket, dsb, itulah alasan kenapa pada waktu zaman jepang dulu, mereka berlomba lomba memborong keris sebanyak - banyaknya, karena didalamnya ada uranium dan bahan -bahan luar biasa lainnya yang diolah dengan teknologi yang tidak ada di zaman sekarang.

Demikianlah kupas tuntas tenang mitologi keris yang sekarang malah banyak yang salah kaprah dipahami oleh masyarakat zaman sekarang, tutur penjelasan diatas adalah penjelasan tentang keris yang dikupas tuntas oleh Empu Totok, tapi disini saya ringkas agar tidak terlalu panjang, jadi apabila ada salah kata mohon dibenarkan. Saya akhiri artikel ini semoga artikel ini dapat menjadi pengetahuan dan referensi yang murni bagi anda semua, agar anda semua tidak salah faham dengan mitologi keris ini, semoga bermanfaat.
Mokhamad Nur Rokim
Load comments
Dapatkan update artikel terbaru dari BLOG KANG KIMIN lewat email. GRATIS!